• About
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Contact

MATSAMUKA

  • DROPDOWN MENU
  • About
  • Sitemap
  • Labels
    • Bisnis Online
    • Media Sosial
    • Ragam
    • Software
    • Blogging
  • Blog Bisnis
  • Links
    • Download Video
    • Adw Cleaner
    • Malware Byte
Home » Sosial - Kemasyarakatan » Saling Lapor dan Memakan Ekornya Sendiri

Saling Lapor dan Memakan Ekornya Sendiri

Label: Sosial - Kemasyarakatan

Saling Lapor dan Memakan Ekornya Sendiri
Oleh : Fadil Abidin

            Kondisi masyarakat dan bangsa kita saat ini tengah memasuki fase yang mengkhawatirkan. Serangan hoax, ujaran kebencian, fitnah, sikap intoleransi, permusuhan antar ormas, saling kecam, saling lapor dan melaporkan menjadi berita yang kerap tersaji di televisi, dan lebih masif lagi di dunia maya. 

            Perkembangan teknologi komunikasi, internet dan media sosial menjadikan kondisi semakin parah. Ada anomali di Indonesia, keterbukaan informasi global ternyata tidak membuat kita semakin cerdas, tidak semakin toleran, dan pikiran tidak semakin terbuka. Justru kita semakin mudah tersinggung, mudah merasa dinista, gampang dihasut, mudah membenci, mudah terprovokasi, dan akhirnya mudah menjadi marah.
Fenomena saling lapor dan melaporkan saat ini tengah menjadi tren di tanah air. Gegara ucapan, ceramah, atau pidato, seseorang dilaporkan ke polisi dengan aneka tuduhan dan dugaan. Orang yang dilaporkan pun kemudian balik melaporkan. Pelapor menjadi terlapor, terlapor menjadi pelapor. Seperti benang kusut yang tiada ujung pangkalnya.
Kondisi bangsa Indonesia saat ini persis penggambaran mitos Ouroboros. Ouroboros adalah sebuah mitos Yunani Kuno yang menggambarkan ular atau naga yang memakan ekornya sendiri. Berasal dari dalam bahasa Yunani “oura” yang berarti ekor,  dan “boros” yang berarti makan, sehingga berarti 'ia yang makan ekor'.
Ouroboros merupakan simbol pembaharuan siklus kehidupan, ada yang hidup, dan ada yang mati. Kematian dan kelahiran yang selalu berulang tiada berujung. Ouroboros digambarkan sebagai ular melingkar dan memakan ekornya sendiri.
Tapi dalam kehidupan nyata, Ouroboros adalah simbol kesia-sian yang memusnahkan diri sendiri. Ular di alam nyata kadang-kadang berkelakuan seperti Ouroborus dan memakan ekornya sendiri. Namun, tidak seperti makhluk mitos Ouroboros, ular tidak melakukan siklus pembaharuan diri saat memakan dirinya sendiri, tapi hanyalah kesia-sian, bunuh diri. Ular yang memakan ekornya sendiri biasanya adalah ular peliharaan.
Ular berdarah dingin, yang berarti mereka tidak mampu mengatur suhu tubuh mereka. Mereka membutuhkan sumber panas eksternal untuk menghangatkan diri. Tapi jika mereka terlalu hangat, mereka tidak dapat berkeringat untuk mendinginkan dirinya, dan harus mampu untuk mencari perlindungan di tempat yang sejuk, tempat yang teduh.
Jika tubuh ular terlalu panas, mereka dapat menjadi bingung dan mengalami disorientasi. Metabolisme mereka juga tergenjot, menyebabkan mereka memiliki rasa lapar palsu dan keinginan untuk memakan benda pertama yang mereka lihat. Sebagai ular peliharaan, ular biasanya hidup sendiri dan makanan tidak rutin tersedia bagi mereka, mereka akhirnya memangsa diri mereka sendiri.
Ular juga dapat menyerang diri mereka sendiri saat mereka melepaskan kulitnya dan pengelihatannya berkurang, sehingga salah mengidentifikasi ekor mereka sebagai mangsa. Ketika ular mulai memakan dirinya, mengurangi suhu dengan membasahi ular dengan air dingin dapat membantu mengurangi stres dan ular mungkin akan melepaskan ekornya dari mulutnya. Tapi hal ini bisa berakibat fatal. Karena ular telah berevolusi untuk menjebak makanan dan membimbing masuk kedalam perutnya, sangat sulit bagi mereka untuk melepaskan apa yang telah mereka mulai makan. Ular pun pelan-pelan akan mati.
Kehilangan Orientasi
Mungkin kondisi bangsa ini seperti Ouroboros. Bangsa ini mengalami “kegerahan” yang luar biasa sehingga kehilangan orientasi. Kehilangan orientasi membuat semua hal menjadi samar. Seperti pemabuk di pinggir jalan yang meracau tak karuan dan mengganggu siapa saja yang lewat. Mudah tersinggung, semua orang dicaci maki, semua orang diteriaki, dan semua orang diancam.
Disorientasi membuat orang tidak berpikir secara logika, semua orang dianggap salah, mereka dan kelompoknya adalah yang paling benar. Dan lacurnya kelompok-kelompok lain juga berpandangan yang sama. Akhirnya mereka bertengkar di pinggir jalan karena sama-sama mudah tersinggung.
Kita yang mendengar dan kita yang melihat pertengkaran ini pada awalnya menonton dengan penuh keingintahuan. Ada yang kemudian ikut-ikutan dengan memihak salah satu pihak, dan ikut terjun dalam pertengkaran. Tapi ada pula yang berusaha tetap memandang dari kejahuan. Pertengkaran kian seru, sumpah serapah, saling kecam, saling hujat, saling lapor dan melapor. Kita tidak tahu mana yang iblis, dan mana yang malaikat, karena dalam kegaduhan mereka terlihat sama.
Pada awalnya kita anggap biasa saja, dan akan redah dengan sendirinya. Tapi semakin hari, intensitas pertengkaran semakin tinggi dan merembet ke mana-mana. Yang tidak ikut memihak pun dicatut memihak mereka, dengan dalih atas nama. Saya yang tidak ikut pun dicatut oleh mereka atas nama agama.   
Tapi lama-lama kita bosan juga, bahkan geram dengan kondisi ini. Sebagai penonton di kejauhan, yang mayoritas ini justru hanya mampu diam. Atau memang sengaja diam karena tak mau terlibat pertengkaran ini. Negara pun seakan tak berdaya, karena semua pihak berlindung atas nama hukum.

NKRI memang harga mati, tapi disintegrasi sosial juga tengah terjadi. Anak-anak bangsa saat ini tengah mengalami disorientasi. Kita tampaknya tengah memusnahkan satu sama lain. Ibarat tubuh, kita seakan melakukan amputasi terhadap anggota badan kita sendiri. Seperti mitos Ouroboros, kita mungkin saat ini tengah memakan ekor kita sendiri. ***

0 Response to "Saling Lapor dan Memakan Ekornya Sendiri"

← Posting Lebih Baru Posting Lama → Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Entri Populer

  • Tata Ruang
    Tata ruang atau dalam bahasa Inggrisnya spatial plan adalah wujud struktur ruang dan pola ruang disusun secara nasional, regional dan lokal...
  • LOMBA ESSAY, PUISI DAN PHOTO SELFI BRI TAHUN 2014
    Lomba Essay, Puisi, Photo Selfie Tingkat SMA dan Sederajat I. Peserta Peserta lomba dalam rangka rangkaian kegiatan HUT BRI Ke 119 PT. Bank ...
  • Persebaran Flora di Indonesia
    Mungkin diantara kita masih belum mendapatkan gambaran -seperti apa sih persebaran flora di Indonesia?-. Seorang ahli biologi asal Belanda –...
  • Soal Geografi Materi Biosfer
    1. Fauna wilayah Indonesia Bagian Barat termasuk fauna tipe.... A. Australis B. Panama C. Ethiopian D. Oriental E. Paleartik 2. Di daratan A...
  • Dua Bangun Datar Kongruen: Latihan 2
    Catatan ke-7  A. Pertanyaan Perhatikan gambar trapesium-trapesium dibawah ini ! Tentukan pasangan yang kongruen? ...
  • Penyebab Kerusakan Tanah
    Kerusakan tanah dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain sebagai berikut: Perusakan hutan Akibat hutan yang rusak dapat mengurangi da...
  • Persebaran Fauna di Dunia
    Wilayah persebaran fauna pertama kali diperkenalkan oleh Sclater (1858) dan kemudian dikembangkan oleh Huxley (1868) dan Wallace (1876). Ada...
  • Two congruent plane figures: exercise 2
    Catatan ke-8 Exercise Consider the plane figures below! Show the couples of the congruent figures? Explain step by step th e answer. ...
  • Shingeki No Kyojin S2 Episode 12 [END]
    Shingeki No Kyojin S2 Episode 12 [END] Subtitle Indonesia [Attack On Titan] Anime : Shingeki No Kyojin Season : 02 Episode : 12 [END] Subtit...
  • JUARA SEKOLAH SEHAT KOTA MEDAN 2015
    Dinas Pendidikan Kota Medan pada Tahun 2015 menyelenggarakan Lomba Sekolah Sehat dengan tema BERHIAS yang selaras dengan Program Pemerinta ...

Arsip Blog

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Memuat...

Memuat...

Memuat...

Memuat...
Copyright 2014 MATSAMUKA. All Rights Reserved. Template by CB Blogger. Original Theme by Mas Sugeng. Powered by Blogger